Sabtu, 04 Februari 2012

FORMULASI DAN IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH YANG EFEKTIF

FORMULASI DAN IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH YANG EFEKTIF
Oleh : Drs. Nur Kholiq,M.Pd

ABSTRAKSI
Penyelenggaraan sekolah yang dijiwai dengan semangat membangun murid melalui segala keunggulannya, akan memperbaiki citra pendidikan. Peran ini dimainkan oleh para Kepala Sekolah sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kepala Sekolah yang visioner akan mampu membawa sekolah ke jenjang prestatif. Keberhasilan yang dicapai tidak parsial, tetapi integratif antara prestasi akademis, moral, perilaku, ketrampilan dan kreativitas. Kondisi tersebut dapat diciptakan dengan menata ulang semua komponen sekolah. Penataan yang dapat dilakukan adalah penyusunan : Rencana Strategis meliputi Visi, Misi, Keunikan Sekolah, Kompetensi Lulusan, Kualifikasi Guru dan Nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi ; Rencana Teknis : Target, Program Kerja Tahunan Sekolah; Pelaksanaan Kegiatan : Kegiatan Belajar, Ekstrakurikuler, Sarana Prasarana, Keuangan, Penghargaan dan Peran serta Orangtua murid; Evaluasi Kegiatan: Penetapan standar mutu dan Bentuk-bentuk Evaluasi stndar mutu.

A. PENDAHULUAN
Di lingkungan pendidikan sering terjadi saling lempar kesalahan. Di sekolah SMP misalnya, kegagalan dituduhkan kepada guru-guru Sekolah Dasar yang tidak mampu meletakan dasar-dasar pengetahuan ketika murid belajar di SD. Guru SMA mengatakan hal yang sama kepada guru SMP, bahwa prestasi atau prilaku yang buruk akibat banyak materi belum dikuasainya dan tidak ada pembinaan/keteladanan moral di Sekolah, demikian seterusnya. Guru SD mengatakan bahwa para orangtua mereka tidak mampu mendidik anaknya di rumah, demikian juga keadaan yang terjadi di masyarakat berlawanan dengan nilai-nilai yang diharapkan sekolah. Padahal kalau kita menyadari semua, bahwa orangtua dan masyarakat tidak akan seperti yang disangkakan itu terjadi apabila sekolah telah berhasil mendidik mereka.
Pendidikan memiliki fungsi yang strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam semua aspek kehidupan. Keburukan yang terjadi baik di bidang ekonomi, politik, pergaulan atau lainnya pada hakekatnya akibat dari kegagalan proses pendidikan. Manajemen pendidikan memiliki peranan besar terhadap kegagalan ini. Apabila sistem manajemen baik; unsur guru, waktu belajar dan sarana akan berfungsi optimal

B. PERMASALAHAN
Kebanyakan pendidikan dijalankan tanpa ruh atau Jiwa dan sekolah berjalan apa adanya. Banyak sekolah memiliki guru yang tidak berjiwa guru, bahkan banyak guru yang menjadi guru untuk menumpang mencari nafkah. Akibatnya murid belajar bertahun-tahun tidak memperoleh apa-apa, NEM jatuh, moral dan perilakupun rendah.
Ketidakberhasilan proses pendidikan adalah akibat manajemen sekolah yang buruk. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “ kebenaran” yang tidak dikelola dengan baik dapat dikalahkan “keburukan” yang terkelola dengan baik. Pendidikan diselenggarakan dalam rangka membangun kebenaran pada diri peserta didik, sehingga harus dikelola dengan baik. Segala sesuatu yang merusak tanpa dikelolapun sering menghambat atau menggagalkan proses dan hasil pendidikan yang kita selenggarakan/laksanakan, apalagi “keburukan” itu terkelola lebih baik daripada pengelolaan Pendidikan. Ungkapan tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran dan fungsi menejemen Sekolah, sehingga formulasi dan kemampuan manajerial para Kepala Sekolah perlu menjadi perhatian serius.


C. PEMBAHASAN
Hasil penelitian di Enam belas negara berkembang : India, Mesir, Botswana, Thailand, Hongaria, Cheile, Elsalvador, Kolumbia, Meksiko, Brazil, Argentina, Peru, Urganda, Hongaria, Paraguei, Iran dan Bolivia, menggambarkan bahwa penentu keberhasilan belajar di sekolah adalah faktor : Guru : 34 % , Manajemen : 22 % , Waktu belajar : 18 % dan Sarana 26 %( Nursito ) Ketika peran manajemen bisa diperbaiki maka fungsi dari faktor-faktor lainnya bisa meningkat. Kuncinya adalah kebebasan sekolah dan kemampuan Kepala sekolah dalam pengelolaan. Pemerintah telah memberikan kebebasan mengelola dalam Manajemen Berbasis Sekolah.  
Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh para Kepala sekolah dengan staf pimpinan Sekolah adalah menyusun :

1. RENCANA STRATEGIS
Ketika pemerintah meluncurkan Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) banyak Kepala sekolah merasa bingung, meskipun penjelasan hal itu telah diberikan atasannya dengan gamblang. Apa yang akan dilakukan, dari mana dan bagaimana ia harus memulai. Mereka juga bingung menghadapi para guru yang tidak mau berubah. Mereka berusaha membuat visi dan misi, namun tidak direspon oleh semua guru/staf, sehingga upaya-upaya yang telah dilakukan tidak membawa perubahan apa-apa. Oleh karena itu mulailah menyusun rencana strategis : visi, misi Keunikan Sekolah, Kompetensi Lulusan, Kualifikasi Guru dan Nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh warga Sekolah. Apabila Kepala Sekolah kurang mampu, bisa menggunakan tenaga konsultan Pendidikan.

Langkah awal yang harus dilakukan baik oleh sekolah baru maupun sekolah lama yang ingin memulai dengan paradigma baru adalah menyusun rencana strategis sekolah. Tahapan yang harus dilakukan sebelumnya adalah memahami para murid atau calon murid dan orangtua murid, memahami kebutuhan mereka dan memahami kebutuhan pendidikan pada masa yang akan datang. Dalam menyusun rumusan rencana strategis, Kepala Sekolah hendaknya melibatkan semua guru/staf atau perwakilan guru apabila jumlah guru di atas 25 orang. Lakukan curah gagasan ( Brainstorming ) dengan mereka dan pandulah mereka dalam kegiatan ini oleh Kepala Sekolah atau Fihak lain ( trainer/konsultan). Cara ini lebih menghargai guru/staf, sehingga apa yang dihasilkan mereka menjadi tanggungjawab bersama dalam merealisasikannya. 

Teknik pengumpulan ide-ide guru dapat dilakukan dengan membawa mereka ke suatu tempat yang menyenangkan, jauh dari keramaian/gangguan, kemudian diskusikan beberapa pertanyaan berikut :
1). Apa mimpi, cita-cita atau harapan saya/sekolah 10- 20 tahun mendatang ?
2). Apa yang harus dilakukan agar mimpi itu terwujud ?
3). Karakter apa yang mau dibangun Sekolah ini ?
4). Apa keunggulan lulusan Sekolah ini dibandingkan dengan Sekolah lain ?
5). Kualifikasi guru seperti apa yang dapat mewujudkan lulusan Sekolah itu ?
6). Nilai-nilai apa yang harus dijunjung tinggi agar mimpi tercapai ?

Setiap orang menjawab cukup satu kata yang harus ditulis pada kertas karton. Semua jawaban peserta dikelompokkan sesuai dengan makna dan maksudnya. Kata-kata yang sama persis cukup diambil salah satu yang lebih baik. Hasilnya ditempelkan di dinding dan susunlah berurutan ke bawah untuk jawaban pertanyaan yang sama. Susunlah kata-kata dari setiap pertanyaan menjadi kalimat yang memiliki makna dan sesuai kaidah bahasa Indonesia. Apabila belum tercapai, Kepala Sekolah menunda hasilnya dan diumumkan setelah diperbaiki Kepala Sekolah dengan tim guru yang dianggap mempunyai wawasan pendidikan yang lebih baik. Apabila belum sempurna, maka tugas Kepala sekolah dan tim untuk menyempurnakannya. Jawaban atas pertanyaan 1 menjadi rumusan visi, jawaban 2 menjadi misi, jawaban 3 : ciri khas. Jawaban 4: Kompetensi lulusan, jawaban 5 kompetensi guru dan jawaban 6 : nilai-nilai yang harus dipegang teguh dan dijunjung tinggi dalam mewujudkan visi sekolah. 

Berikut ini dapat kami sampaikan visi dan misi SMA hasil curah gagasan:

Visi
Menjadi Sekolah terbaik yang dapat menghasilkan calon-calon Pemimpin masa depan yang berkarakter dan berkepribadian kuat, menguasai IPTEK, terampil dan mandiri.

Misi
1.      Membentuk muslim mukallaf (usia baligh) yang berkepribadian
2.      Membekali murid dengan ketrampilan dan kemandirian yang berorientasi pada ketrampilam hidup ( life skill )
3.      Mengantarkan murid untuk diterima di Perguruan Tinggi Negeri atau swasta papan atas yang kompetitif, baik dalam maupun luar Negeri

Keunikan Sekolah 
Kebanggaan sering dibangun atas penonjolan kekhasan dan keunggulan sekolah terhadap sekolah lain. Oleh karena itu keunggulan itu penting baik sekolah Negeri maupun swasta. Kekhasan sekolah swasta relatif lebih mudah dibangun daripada sekolah negeri. Namun demikian dengan manajemen berbasis sekolah, Kepala sekolah Negeripun mendapat kesempatan berkreasi dalam mengelola sekolah. Kekhasan/ keunggulan bisa dibangun berdasarkan (nilai-nilai) Agama, Nasionalisme, Enterpreneurship atau lainnya. Keunggulan dapat juga diangkat dari salah satu bidang kemampuan seperti kemampuan Bahasa ( Inggris, Arab, Mandarin), Sains, Komputer, atau lainnya sesuai dengan visi yang telah disepakati. 

Kompetensi Lulusan
Perusahaan yang baik mampu memberikan pelayanan konsumen yang memuaskan dengan menampilkan produk yang bermutu. Demikian juga dalam dunia Pendidikan, Pendidikan yang baik mampu menjalankan proses dengan baik sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas. Pemakai atau masyarakat menilai lulusan Sekolah tertentu memiliki keunggulan dibandingkan dengan sekolah lain.

Berikut adalah salah satu bentuk Kompetensi lulusan SMA (2001) yang dituangkan dalam
Dimensi Keunggulan Murid :
1). Kepribadian Islami 
 Memiliki aqidah yang lurus dan diaplikasikan dalam kehidupannya. 
 Berakhlak islami ( Kepada Allah, rosul,manusia , alam semesta dan diri sendiri) 
 Menjadi teladan dan mampu membimbing pelaksanaan ibadah sesuai sunnah
 Hafal Al Quran minimal 2 juz, Hadits do'a dan ayat pilihan dengan memahami kandungannya 
 Proaktif terhadap permasalahan sosial dan dakwah 

2). Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
 Memiliki kebiasaan dan kemauan belajar ( Study habbit) yang tinggi melalui kegemaran membaca dan kegiatan observasi 
 Mahir berbahasa Inggris dengan TOEFL > 450 
Hasil Nilai Ujian Akhir Nasional ( NUAN ) rata-rata minimal 7 tanpa nilai dibawah enam 
 Menguasai konsep dasar iptek untuk dimanfaatkan dalam kehidupan 

3). Ketrampilan dan Kemandirian
 Memiliki keterampilan "learning to learn”
 Memiliki kemampuan berkomunikasi ( human relation) verbal, non verbal, formal dan informal
 Memiliki Kemampuan untuk memecahkan masalah sehari-hari 
 Mampu bekerja dengan baik secara mandiri maupun dalam kelompok
 Terampil menggunakan alat bantu berteknologi 

Kualifikasi Guru
Untuk mewujudkan visi dan keunggulan lulusan Sekolah, maka dibutuhkan kualifikasi guru tertentu. Oleh karena itu Sekolah perlu menetapkan kualifikasi guru seperti apa yang mampu mewujudkannya. Kriteria guru yang diharapkan adalah sebagai berikut :

Kriteria Primer
Setiap guru yang berhak mendidik di sekolah harus memiliki :
1. Sertifikat Sarjana S 1 dengan Indeks Prestasi Kumulatif ( IPK ) > = 2,75
2. IQ >= 110
3. Memiliki visi sebagai Pendidik
4. Keberagamaan yang mengakar pada dirinya ( Internal religiusity )
5. Memiliki Kebiasaan Intelektual yang tinggi
6. Mampu membaca Al Qur’an dengan lancer dan benar (sekolah Islam)
7. Kemampuan materi, cara mengajarkan dan mengembangkannya
8. Kemampuan evaluasi Pembelajaran

Kriteria Sekunder
Kemampuan pendukung yang diharapkan dimiliki guru, adalah :
1. Kemampuan berbahasa Indonesia, Inggris ( SBI) dan/atau arab
2. Ketrampilan khusus ( misal : seni, olahraga, organisasi atau lainnya)
3. Pengalaman berorganisasi/kepemimpinan

Apabila saat ini keadaan guru tidak seperti yang diharapkan, maka perlu adanya program untuk meningkatkan guru ke jenjang kualifikasi tersebut. Seluruh guru diberi kesempatan meningkatkan diri untuk mencapai kriteria dalam waktu yang telah ditetapkan. Guru-guru yang tidak mau atau tidak mampu mengubah dirinya harus diberi tugas lain atau dipindahkan.

Nilai-nilai yang dijunjung tinggi
Nilai-nilai yang harus menjadi jiwa para guru dan staf dalam menyelenggarakan pendidikan, misalnya :
1. Jujur, amanah, komunikatif dan cerdas
2. Membangun kerja sama yang kokoh
3. Beretika orang timur
4. Selalu belajar untuk maju dan meraih prestasi
5. Semangat kerja setiap saat
6. Konsisten, kreatif dan profesional
7. Berfikir terbuka
8. Belajar dari siapapun
9. Inovatif terus menerus dan berfikir kritis

2. RENCANA TEKNIS
Rencana stategis perlu dijabarkan ke dalam rencana teknis yang lebih operasional. Ada 2 rencana yang harus diwujudkan untuk mengarahkan tercapainya visi sekolah.

Target Sekolah
Untuk mencapai visi perlu adanya visi –visi antara (tahapan-tahapan) yang mampu mengantarkan kepada visi besarnya. Visi-visi antara ini kami sebut sebagai target. Target dapat ditetapkan untuk jangka waktu satu tahun, 2 tahun atau 3 tahun. Semua bagian Sekolah, Perpustakaan, Pusat Sumber Belajar, Asrama( sekolah Boarding/pesantren) dan lainnya dituntut memiliki target dan mencapainya diakhir tahun yang ditetapkan. Target harus jelas dan dapat dicapai. Sebelum menyusun target ada baiknya melakukan analisis SWOT. Berikut adalah salah satu bentuk rumusan target :

Prestasi Guru dan Murid :
• 80 % Lulusan masuk PTN /PTS yang bermutu baik Dalam/Luar Negeri
• 10 Prestasi murid terkait dengan Dimensi Keunggulan Murid ( DKM )
• 3 Prestasi guru
• 3 Inovasi proses belajar
• 50 % Guru berbahasa Inggris Intermedite 1
• 25% Bahan ajar berbahasa Inggris
• 85% Murid mencapai target DKM
• 75 % Penyerapan konsep /spirit Life Skill pada program unit dan proses pembelajaran
• Tidak ada peringatan dan komplain yang berarti

Asrama ( sekolah berasrama):
• Maksimum 5 % komplain yang berarti dan tanpa pelanggaran berat
• Asrama menjadi tempat yang menyenangkan di kampus Perpustakaan 90%
• Pengunjung dan peminjam bertambah 200%
• Jumlah buku bertambah 20%

Pusat Sumber Belajar ( PSB ) :
• 12 Inovasi –kreatif media belajar  

Bagian Perawatan dan Pengembangan sarana Prasarana:
• Tidak ada kecelakaan ( Zero Accident )
• 10 ( maks ) complain dari unit lain
• 15% efisiensi anggaran

Program Kerja Sekolah
Program Kerja tahunan menentukan ketercapaian visi dan target serta Dimensi Keunggulan Murid ( DKM ). Komponen program tahunan adalah Sasaran/ referensi, Program kerja , Kegiatan, Kriteria sukses, Biaya, dan Penanggungjawab.
Sasaran/referensi mengacu pada target dan / atau Dimensi keunggulan murid/guru yang akan dicapai. Untuk mewujudkan sasaran itu program apa yang dapat mewujudkannya. Program tersebut dapat berhasil apabila didukung oleh kegiatan apa saja ?. Demikian juga Kegiatan dikatakan berhasil dengan tolok ukur kriteria suksesnya apa. Berapa biaya yang dibutuhkan ? Siapa penanggung-jawab kegiatan tersebut. 

3. PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan Belajar
Kegiatan belajar adalah kegiatan inti dari sekolah, oleh karena itu segala daya dan upaya dikerahkan untuk keberhasilan proses belajar. Kegiatan belajar yang di lakukan oleh guru harus menyenangkan, mampu menggali potensi murid secara optimal dan bermanfaat bagi diri, orang lain atau masyarakat. Agar proses belajar tersebut terwujud, setiap guru harus melakukan kegiatan pembelajaran kreatif atau inovatif dan menggunakan sumber belajar yang lebih berkualitas dan variatif

Tingkatan kualitas sumber belajar adalah sebagai berikut :
1. Buku Pelajaran : Buku paket, buku pegangan murid, modul pelajaran
2. Buku Pelajaran dan Bacaan tambahan yang bersifat akademik
3. Buku Mata pelajaran Sekolah yang lebih tinggi
4. Menggunakan ( 2 ) dan Sumber non Akademis : Majalah, Brosur, Jurnal, Suratkabar dan lainnya 
5. Bahan Audio Visual : Gambar, grafik, Peta, tabel, Film, CD, Komputer, Internet dan lainnya
6. Menggunakan Demo, eksperimen, Karya diri, Nara sumber Ahli, Pelaku sejarah atau peristiwa
7. Menggunakan kegiatan perorangan, Sosial, Masyarakat luar dan/atau dalam Sekolah.

Semakin ke bawah urutannya, semakin banyak kemampuan murid yang bisa digali, lebih menyenangkan dan lebih bermanfaat baik bagi murid sendiri, orang lain maupun masyarakat. Guru diharapkan sering memanfaatkan sumber belajar nomor-nomor besar dengan variasinya. Dalam pembelajaran diperkaya dengan muatan-muatan Humanisme (nilai-nilai hidup, sikap ilmiah dan lainnya), ketrampilan leadership dan ketrampilan proses. 

Bentuk- bentuk pembelajaran yang mengacu pada sumber belajar yang bermutu banyak dilakukan seperti : Jaringan Topik : topik kendali dan kesatuan kegiatan, Studium Genarale dan Diskusi Pakar, Penugasan, Bedah buku, Praktek Lapangan, Penelitian, Studi Tour, Observasi Lapangan, Lomba-lomba dan lainnya.

Untuk mendukung pembelajaran yang baik, peran guru sangat menentukan.
Beberapa peran guru yang harus berfungsi adalah :
Motivator : mendorong, meningkatkan minat murid, memberi inspirasi
Fasilitator : menguasai sumber informasi dan sarana belajar
Inovator : selalu mencari metode / pendekatan baru,
Tutor : membimbing dan mendampingi murid,
Organisator : terampil membuat perencanaan belajar,
Edukator : membentuk sikap dan perilaku murid

Sarana dan Fasilitas
Keberhasilan belajar dan manajemn sekolah harus didukung oleh sarana/ fasilitas fisik yang memadahi. Sarana mencakup ruang Kelas, Lab. Fisika, Biologi dan Kimia,Lab. Komputer, Lab Bahasa, Perpustakaan, Masjid, Multimedia dan Internet, Fasilitas Olahraga: Kolam Renang, Lapangan Basket, voli, Lapangan Sepak Bola, Lapangan Bulu Tangkis, Lapangan Atletik, Fasilitas lainnya: Koperasi/ Kantin, Warung Sekolah, Auditorium, Namun lebih penting lagi keberadaan perlengkapan yang memfasilitasi peran/ fungsi guru serta pengembangan Guru, staf mapun murid

Kegiatan Ekstra Kurikuler
Potensi murid terkadang berkembang melalui kegiatan non akademis, bahkan sering terjadi prestasi non akademis mampu meningkatkan prestasi akademik sekolah. Kegiatan yang dilakukan di luar aktifitas akademis ( ekstra kurikuler ) dapat dikatagorikan menjadi ekstrakurikuler wajib ( semua murid harus terlibat ) dan pilihan.
Setiap ekstrakurikuler pilihan dapat dibatasi peserta minimalnya, namun idealnya berapapun murid yang memilihnya, ekstrakurikuler tersebut tetap diselenggarakan.

Berikut contoh pengelompokan kegiatan ekstrakurikuler :
Olah Raga : Wajib : renang dan bela diri
Pilihan : sepak bola, bola basket, bulu tangkis, tenis meja, renang dan sebagainya.
Lain-lain : Wajib : tahfidz Qur’an, jurnalistik, komputer
Pilihan : drama, nasyid
Ekstrakurikuler wajib harus dilaksanakan oelh sekolah, sedangkan yang pilihan sebagian bisa diselenggarakan oleh fihak lain melalui kerjasama. Misalkan bekerja sama dengan klub-klub olahraga yang ada di wilayah sekolah.

Keuangan
Dana merupakan tulang punggung tercapainya dan keberhasilan program, sehingga ketersediaannya harus ada jaminan. Keleluasaan dalam mengelola sekolah tidak ada artinya apabila tidak disertai dengan keleluasaan dalam mengelola anggaran sekolah. Mekanisme penetapan Anggaran (RAPBS) yang dilakukan oleh Sekolah swasta sebagai berikut :
1.      Setiap penanggung jawab kegiatan atau program menyusun anggaran.  
2.      Proses rekap semua dana yang dibutuhkannya, sebagai anggaran sekolah secara keseluruhan. Setiap penanggungjawab mempresentasikan dihadapan Kepala Sekolah. 
3.      Kepala sekolah beserta tim wakasek mempresentasikan anggaran yang telah direvisi (hasil presentasi awal ) ke level yayasan. Setelah melalui argumentasi, penjelasan rinci, anggaran bisa direvisi kembali. Setelah disepakati antara sekolah dan Yayasan, Kepala sekolah menyusun anggaran yang disetujui ke alokasi bulanan.
4.      Setiap bulan Sekolah mendapat dropping dana untuk pelaksanaan program sesuai nila alokasi bulan tersebut.
5.      Laporan realisasi keuangan disampaikan Kepala Sekolah ke fihak Yayasan, pada tanggal 5 setiap bulannya. 
6.      Selanjutnya langkah 4 – 5 akan terjadi setiap bulannya. Dana yang diadakan tanpa rencana harus diajukan dananya ke yayasan dalam bentuk proposal lengkap untuk kemudian disetujui dan diberikan dananya

Untuk sekolah Negeri peran yayasan bisa digantikan oleh peran Komite Sekolah masing-masing.

Penghargaan
Dalam rangka untuk menumbuhkan motivasi berprestasi dalam mencapai keberhasilan visi, kompetensi lulusan dan target, sekolah harus mengubah bentuk pendekatan dari pemberian sanksi-sanksi pelanggaran ke pemberian penghargaan para murid / guru yang berprestasi dalam belajar, mentaati peraturan, sikap dan perilaku serta kemampuan khusus lainnya.

Jenis prestasi murid yang mendapat penghargaan, diantaranya :
• Nilai akademis peringkat 1, 2 dan 3 pada saat penerimaan rapor semester
• Tahfidz kelas 1 : 1 juz , kelas 2 dan 3 : 2 juz dan murid yang hafal lebih dari 2 juz
• Tidak terlambat ke sekolah atau masjid selama 1 bulan berturut-turut
• Hadir di sekolah paling awal
• Membuat karangan/tulisan terbaik
• Berhasil juara dalam lomba di luar sekolah
• Murid teladan versi Sekolah
• Menjadi asisten Pembina, Guru mata pelajaran, Tahfidz/doa dan bahasa
• Menjadi pengurus OSIS, Asrama, kantin
• Mengunjung perpustakaan rutin, peminjam buku terbanyak
• Tidak pernah melakukan pelanggaran jenis apapun
• Murid penyumbang prestasi terbanyak ke sekolah
• Kebersihan kelas, kamar asrama
• Berqurban satu kambing pada hari raya qurban
• Absen sekolah selama 1 bulan dan lain-lain

Penghargaan berupa voucher, hadiah, piagam, diajak makan bersama, tabanas, rekreasi dan sebagainya.

Guru juga harus berprestasi , bukan hanya menuntut para murid untuk berprestasi. Penghargaan tidak hanya diberikan kepada murid, tetapi diberikan juga kepada guru.

Prestasi guru yang layak diberikan penghargaan diantaranya:
• Nilai rata-rata Ebtanas../ NUAN tujuh atau lebih
• Mahir berbahasa Inggris atau arab ( Sekolah Islam)
• Menjadi guru Magnet ( 80 % muridnya menyatakan senang /enak mengajarnya)
• Pemenang lomba inovasi pembelajaran
• Kinerja dalam satu tahun Sangat Baik
• Melakukan inovasi pembelajaran
• Membuat model media pembelajaran yang inovatif
• Memiliki ketrampilan di luar mata pelajarannya
• Mengabdi 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun dan lainnya

Peran serta Orangtua murid
Keterlibatan orangtua murid adalah salah satu faktor yang mampu meningkatkan prestasi Sekolah, baik akademis maupun non akademis. Keterlibatan mereka yang sangat penting adalah menyediakan fasilitas belajar, memantau perilaku anak ketika di rumah dan memotivasi belajar anaknya. Menjalin hubungan baik dengan cara mendukung dan mentaati peraturan serta prosedur-prosedur yang berlaku, kehadiran di sekolah untuk ikut kegiatan, pengawasan, koordinasi mapun pembinaan. Keterlibatan orang tua murid terjadi baik secara individual maupun secara organisasi ( POMG, BP3, Komite Sekolah, atau lainnya) dalam rangka memperkuat titik-titik lemah sekolah.

4. EVALUASI KEGIATAN
Penetapan Standar mutu  
Sekolah menyatakan diri berkualitas namun kadang belum tentu menurut sekolah lain. Oleh karena itu perlu adanya standar mutu yang ditetapkan oleh setiap sekolah. Standar mutu setiap sekolah dapat berbeda dan ditingkatkan setiap tahunnya. Hal –hal yang bersifat permanen bisa dipergunakan dalam jangka waktu yang lama. Semua komponen ditetapkan standar mutunya, seperti Fasilitas ( kantor, kelas, Asrama, perlengkapan dan lainnya ), Sumber daya manusia ( guru, murid, staff dan lainnya ), Kegiatan ( Sekolah, masjid, Asrama dan lainnya ), pembinaan dan standar prosedur. 

Evaluasi Kegiatan
Untuk memantau pelaksanaan dan ketercapaian program, beberapa bentuk kontrol dan supervisi dilakukan :

Kontrol Insidental ( Kontrol lapangan untuk menemukan fakta-fakta). Kontrol dilakukan oleh Kepala Sekolah dan para wakil kepala sekolah. Obyek pengamatannya proses belajar, kebersihan, kerusakan fasilitas dan lainnya.

Laporan kegiatan. Rapat dan laporan pelaksanaan kegiatan khususnya yang bersifat proyek dilakukan oleh panitia pelaksana. Permasalahan yang diangkat diantaranya : persiapan, pelaksanaan, hasil , masalah, pemecahannya dan catatan saran untuk kegiatan yang akan datang

Rapat koordinasi bulanan. Dalam rapat sekolah membahas penjelasan dari laporan: Kemajuan, permasalahan, saran yang akan datang dan rencana kegiatan bulan depan

Laporan kemajuan bulanan. Laporan kemajuan sekolah disampaikan kepada yayasan (Sekolah Swasta) atau Komite Sekolah ( Sekolah Negeri), untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan dan ketercapaian program tahunan.
Laporan kemajuan sekolah dibuat setiap bulan dan disampaikan kepada yayasan ( Swasta) /Komite ) Negeri) pada tanggal 5 setiap bulannya. Laporan mengacu pada program tahunan sekolah. Laporan terdiri dari 3 bagian yaitu : kegiatan rutin, kegiatan non rutin dan kegiatan bulan depan. Setiap bagian dari laporan kemajuan disajikan dalam bentuk matrik yang terdiri dari komponen : tanggal , Kegiatan , referensi/sasaran, Keterangan.
Rapat Pimpinan. Rapat pimpinan dilakukan dalam rangka mengevaluasi kebijakan-kebijakan sekolah dan yayasan serta menggagas kebijakan yang akan dating.

Rapat Kerja Tahunan. Rapat kerja Tahunan di bagi dalam 2 tahap : Pertama : Rapat masning-masing bagian : Mata Pelajaran, perpustakan, tata Usaha, Pusat Sumber Belajar, Asrama ( sekolah berasrama), Kedua : Rapat gabungan untuk mensinergikan program setiap bagian agar efektif dan efisien. Agenda rapat gabungan : Presentasi masing masing Penanggung jawab Kegiatan, Presentasi Guru Mata Pelajaran, Tanggapan, usul/saran, Evaluasi Kegiatan yang telah dilaksanakan, kesulitan/hambatan yang dialami dan gagasan ke depan.

Supervisi rutin. Untuk memantau jalannya proses pendidikan, seluruh guru dan staf melakukan supervisi sesuai dengan fungsinya. Supervisi yang rutin diantaranya : kunjungan kelas, hasil belajar, sarana dan lain-lain. Sepervisi ini telah terjadwal sejak awal semester/ tahun.


D. P E N U T U P

Kesimpulan :
1.      Manajemen Sekolah harus mengorientasikan diri pada keberhasilan tidak hanya akademis, tetapi juga sikap, perilaku, ketrampilan dan kemandirian. 
2.      Kepala Sekolah bersama para guru/staf menetapkan rencana strategis, rencana teknis, pelaksanaan dan evaluasi sekolah. 
3.      Guru diberi kesempatan berkreasi dan berinovasi dalam pelaksanaan pembelajarannya. Pebelajaran yang dibangun adalah Pembelajaran yang menyenangkan, mengoptimalkan potensi murid dan bermanfaat baik bagi dirinya, orang lain/masyarakat namun tetap dapat dipertanggungjawabkan.
4.      Sistem evaluasi harus dijalankan secara konsisten, bervariasi dan berpegang pada visi, misi, target dan program kerja.

Saran-saran :
·         Baik Yayasan atau pemerintah sebaiknya memberikan kesempatan kepada Kepala Sekolah untuk menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sepenuhnya.
·         Evaluasi terhadap pelaksanaan dan peningkatan prestasi lebih dipertajam melalui berbagai bentuk dan Pendekatan.
·         Kepala sekolah hendaknya memulai orientasi manajemennya dengan jelas, perencanaan disusun dengan melibatkan guru, staf dan orangtua murid.


DAFTAR PUSTAKA

Moedjiarto, Prof.Dr.Ir. MSc : Karakteristik Sekolah Unggul, Duta Graha Pustaka, Jakarta, 2002
Mursell.J ,Nasution S, Prof.Dr.MA : Mengajar dengan Sukses, Bumi Aksara, Jakarta, 1995
Nursito : Peningkatan Prestasi Sekolah Menengah , Insan Cendikia, Jakarta, 2002
Terri Breeden and Emalie Egan : Positive Classroom Management, Incentive Publication, Inc, USA,1997
Janice Arcaro : Creating Quality in the classroom, Kogan Page, London, 1995
------------------ Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Buku 1, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2001
Tim : Pedoman dan Program Kerja Sekolah, SMA Internat Al Kausar, Parungkuda, 2002

0 komentar:

Posting Komentar